Open post

FIQIH SHOLAT SUNNAH 3

FIQIH SHOLAT SUNNAH 

Tentang Shalat Isyroq

Oleh: KH Muhammad Afif Zuhri

Shalat Isyraq adalah sholat yang dikerjakan pada saat matahari sudah setinggi satu tombak. shalat israq merupakan bagian dari sholat Dhuha, perbedaannya adalah dari waktu pelaksanannya. shalat isyraq dilaksanakan pada saat sesudah matahari terbit dan meninggi satu tombak, yaitu -sekitar 15 sampai 20 menit sesudah terbit- sampai matahari mendekati dipertengahan. Yang dimaksud dengan mendekati pertengahan yaitu sekitar 10 menit sebelum di pertengahan. Setelah waktu pertengahan maka dimulailah waktu untuk sholat Dhuha, yaitu pada saat matahari sudah sangat panas sampai memanaskan tanah dan pasir sehingga panasnya itu dirasakan oleh kaki anak-anak onta, ini sering disebut waktu ketika anak onta sudah kepanasan.

 Keutamaan dari sholat ini adalah mendapatkan pahala haji dan umrah dengan sempurna. seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah S.A.W dalam hadist Al-Tirmidzi:

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

“Siapa yang shalat Shubuh dengan berjamaah, lalu duduk berdzikir kepada Allah sehingga matahari terbit, kemudian shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna sempurna sempurna.” (HR. Al Tirmidzi)

Maksud dari berdzikir kepada Allah hadist ini, merujuk pada orang yang berdzikir kepada Allah di mesjid tempat orang itu sholat sampai matahari terbit atau sampai masuk waktu shalat isyraq, dan tidak berbicara apapun kecuali berdzikir dan jika orang tersebut wudhunya batal maka diperbolehkan untuk berwudhu keluar mesjid dan setelah itu langsung masuk kembali ke mesjid. Berdzikir disini mempunyai arti yang umum, dzikir disini bisa berarti membaca Al Qur’an, membaca zikir di waktu pagi, maupun zikir-zikir lain yang disyariatkan.

Kata “Isyraq” memiliki arti terbit. Dari kata ini dapat diambil kesimpulan bahwa shalat Isyraq adalah shalat yang dilakukan saat terbitnya matahari. Dalam Al-Qur’an dijelaskan:

 إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ

“Sungguh kami telah menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Nabi Daud) pada waktu petang dan pagi.” (QS. Shad: 18)

Istilah shalat Isyraq yang dilaksanakan setelah terbitnya matahari mungkin lebih asing di telinga kita jika dibandingkan dengan shalat Dhuha yang juga dilaksanakan di waktu yang sama. Namun yang menjadi pertanyaan, adakah perbedaan di antara keduanya? Atau kedua shalat tersebut hanyalah perbedaan istilah saja?

Ulama yang pertama kali mempopulerkan shalat setelah terbitnya matahari dengan sebutan shalat  Isyraq adalah Hujjatul Islam Imam Al Ghazali berdasarkan hadits:

كان إذا أشرقت وارتفعت قام وصلى ركعتين وإذا انبسطت الشمس وكانت في ربع النهار من جانب المشرق صلى أربعا

“Rasulullah SAW berdiri untuk shalat dua rakaat ketika matahari terbit dan ketika matahari mulai menjulang tinggi dari arah timur, yaitu saat seperempat siang, Rasulullah SAW kembali melakukan shalat empat rakaat” (HR. Tirmudzi)

Permulaan shalat dua rakaat yang dilakukan oleh Rasulullah SAW pada saat matahari terbit pada hadits di atas dijadikan sebagai hujjah kesunnahan shalat Isyraq ini.

 Dalam menstatuskan apakah shalat Isyraq ini merupakan shalat yang sama dengan shalat Dhuha, para ulama berbeda pendapat. Menurut Al Ghazali shalat Isyraq berbeda dengan shalat Dhuha, dalam arti shalat Isyraq adalah kesunnahan tersendiri yang tidak sama dengan kesunnahan shalat Dhuha. Namun menurut pendapat yang lain seperti Imam Hakim dalam kitab Al Mustadrak, shalat Isyraq dan shalat Dhuha adalah shalat yang sama berdasarkan hadits yang menyebutkan bahwa shalat pada waktu Isyraq disebut juga dengan shalat awwabin, sedangkan shalat awwabin merupakan nama lain dari shalat Dhuha. (Ibnu Hajar Al-Haitami, Fatawa al-Fiqhiyaah al-Kubra, juz 1 hal.188)

Berpijak pada ulama yang berpandangan bahwa shalat Isyraq dan shalat Dhuha adalah shalat yang berbeda, maka niat shalat Isyraq harus dengan lafal yang berbeda dengan shalat Dhuha, yaitu dengan lafal:

أصلي سنة الإشراق ركعتين مستقبل القبلة لله تعالى

Jumlah rakaat shalat Isyraq hanya terbatas dua rakaat saja, sesuai dengan hadits riwayat imam turmudzi di atas, sehingga saat seseorang telah melaksanakan shalat Isyraq dua rakaat, lalu ia menambahkan dua rakaat lagi dengan niat shalat Isyraq, maka shalat yang ia lakukan dihukumi tidak sah. (Syekh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, juz 4, hal. 311).

Waktu pelaksanaan shalat Isyraq ini adalah mulai terbitnya matahari dengan ketinggian satu tombak, sama dengan awal waktu shalat Dhuha, dan berakhir saat seperempat siang yaitu saat matahari mulai menjulang tinggi. Shalat Isyraq ini juga bisa di qadha’ ketika ditinggalkan, berdasarkan ketentuan bahwa shalat Isyraq adalah Sunnah mustaqillah (kesunnahan tersendiri).  

Pada saat rakaat pertama shalat Isyraq, disunnahkan membaca surat Ad Dhuha, dan pada rakaat kedua, disunnahkan membaca surat Al Insyirah.

Lalu ketika selesai melaksanakan shalat membaca doa sebagai berikut:

اللّهُمّ يا نُوْرَ النُّوْرِ بِالطُّوْرِ وَكِتَابٍ مَسْطُوْرٍ فِي رَقٍّ مَنْشُوْرٍ وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ، أَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِيْ نُوْرًا أَسْتَهْدِيْ بِهِ إِلَيْكَ وَأَدُلُّ بِهِ عَلَيْكَ، وَيَصْحَبُنِيْ فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ الْاِنْتِقَالِ مِنْ ظُلّامِ مِشْكَاتِي، وَأسْأَلُكَ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا، أَنْ تَجْعَلَ شَمْسَ مَعْرِفَتِكَ مُشْرِقَةً بِيْ لَا يَحْجُبُهَا غَيْمُ الْأَوْهَامِ، وَلَا يَعْتَرِيْهَا كُسُوْفُ قَمَرِ الْوَاحِدِيَّةِ عِنْدَ التّمَامِ، بَلْ أَدِمْ لَهَا الِإشْرَاقَ وَالظُّهُوْرَ عَلَى مَمَرِّ الْأَيَّامِ وَالدُّهُوْرِ، وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ الْأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِّلهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ، اَللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِإِخْوَانِنَا فِي اللهِ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتاً أَجْمَعِيْنَ

ALLAHUMMA YAA NUURON NUURI BITh ThOURI WA KITAABIN MASThUURIN FII ROQQIN MANSyUURIN WAL BAITIL MA’MUURI, AS-ALUKA AN TARZUQONII NUURON ASTAHDII BIHI ILAIKA WA ADULLU BIHI ‘ALAIKA, WA YAShHABUNII FII HAYAATII WA BA’DAL INTIQOOLI MIN ZhULLAAMI MISyKATII, WA AS-ALUKA BISy SyAMSI WA DhUHAAHAA WA NAFSIN WA MAA SAWWAHAA, AN YA’TARIIHAA KUSUUFU QOMARIL WAAHIDIYYAH ‘INDAT TAMAAMI, BAL ADIM LAHAAL ISyROOQO WAZh ZhAHUURO ‘ALAA MAMARRIL AYYAAMI WAD DUHUURI, WA ShALLILLAHUMMA ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN KhOOTAMIL ANBIYAA-I WAL MURSALIINA WAL HAMDULILLAHI ROBBIL ‘AALAMIINA, ALLAHUMMAGhFIR LANAA WALIWALIDIINAA WALI IKhWAANINAA FILLAHI AHYAA-AN WAL AMWAATAN AJMA’IINA.

Ya Allah, Wahai Cahayanya Cahaya, dengan wasilah bukit Thur dan Kitab yang ditulis  pada lembaran yang terbuka, dan dengan wasilah Baitul Ma’mur, aku meminta kepadaMu  agar Engkau memberiku cahaya, yang dengannya aku dapat mencari petunjukMu, dan dengannya aku menunjukkan tentangMu. Dan yang terus-menerus mengiringiku dalam kehidupanku dan setelah berpindah (ke alam lain; bangkit dari kubur) dari kegelapan liang (kubur) ku. Dan aku meminta padaMu dengan wasilah matahari beserta cahayanya di pagi hari, dan kemulyaan yang wujud pada selain matahari, agar Engkau menjadikan matahari ma’rifat padaMu (yang ada padaku) bersinar menerangiku, tidak tertutup oleh mendung-mendung keraguan, tidak pula terlintasi gerhana pada rembulan kemaha-esaan dikala purnama. Tapi jadikanlah padanya selalu bersinar dan selalu tampak, seiring berjalannya hari dan tahun. Dan berikanlah rahmat ta’dzim Wahai Allah kepada junjungan kami Muhammad, sang pamungkas para nabi dan Rasul. Dan segala Puji hanya milik Allah tuhan penguasa alam. Ya Allah ampunilah kami, kedua Orang tua kami serta kepada saudara-saudara kami seagama seluruhnya, baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal”.

Keterangan

  1. Sulthonul Qulub Al Habib Mundzir bin Fuad Al Musawa rhm. pernah di tanya masalah sholat Isyroq, beliau mengatakan : Shalat Isyraq dan shalat lainnya yang teriwayatkan 4 rakaat, maka boleh dengan dua salam atau dengan satu salam dan satu tasyahhud, namun ulama-ulama Syafi’i melakukannya dengan dua salam.
  2. Mengenai shalat Isyraq tak ada surat yang khusus yang diwajibkan padanya,
  3. ada ikhtilaf mengenai shalat Dhuha, ada yang mengatakan bahwa shalat dhuha adalah shalat Isyraq, maka mereka yang berpegang pada pendapat ini tentunya boleh saja mereka shalat dhuha jam 7 pagi karena saat itu sudah masuk waktu isyraq.
  4. waktu shalat Isyraq adalah 1 jam + 50 menit dari adzan subuh, yaitu 110 menit dari adzan subuh, berakhir jika matahari sudah terbit dengan sempurna.
  5. Saya Al-faqir Muhammad Afif Zuhri mengambil pendapat ini, yaitu memisahkan antara Dhuha dan Isyraq, sebagaimana Guru Mulia kita Habib Salim Al-Syatiri melakukannya dan mengijazahkanya kepada kita demikian.

Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam menstatuskan apakah shalat Dhuha dengan shalat Isyraq adalah shalat yang sama atau berbeda. Menurut pendapat yang mengatakan bahwa kedua shalat ini adalah sama maka niat shalat Isyraq juga harus sama dengan niat shalat Dhuha. Namun ketika berpijak pada ulama yang  mengatakan bahwa kedua shalat ini berbeda, maka niat shalat Isyraq berbeda dengan sholat Dhuha batas waktu shalat juga berbeda. Wallahu a’lam.

(Referensi dari berbagai sumber kitab) Shalat Isyroq

Open post

FIQIH ZAKAT [ 1 ]

FIQIH ZAKAT 1

Oleh: KH Muhammad Afif Zuhri

كتاب الزكاة

تجب الزكاة في خمسة أشياء وهي: المواشي والأثمان والزروع والثمار وعروض التجارة.

Bab Zakat.

Zakat itu wajib dalam lima perkara yaitu binatang, barang berharga, tanaman, buah, dan harta dagangan.

فأما المواشي فتجب الزكاة في ثلاثة أجناس منها وهي: الإبل والبقر والغنم وشرائط وجوبها ستة أشياء: الإسلام والحرية والملك التام والنصاب والحول والسوم

Adapaun binatang wajib dizakati dalam tiga jenis antara lain unta, sapi, kambing. Dan Syarat wajibnya ada enam yaitu: Islam, merdeka, kepememilikan yang sempurna, mencapai nishab (jumlah minimum), haul (setahun)

فأول نصاب الإبل خمسة وفيها شاة وفي عشر شاتان وفي خمسة عشر ثلاث شياة وفي عشرين أربع شياة وفي خمس وعشرين بنت مخاض وفي ست وثلاثين بنت لبون وفي ست وأربعين حقة وفي إحدى وستين جذعة وفي ست وسبعين بنتا لبون وفي إحدى وتسعين حقتئن وفي مائة وإحدى وعشرين ثلاث بنات لبون ثم في كل أربعين بنت لبون وفي كل خمسين حقة.

NISHAB ZAKAT UNTA

Permulaan nisab onta itu 5 ekor. Dan (zakatnya) untuk 5 ekor adalah 1 ekor biri-biri umur 1-2 tahun. 10 ekor unta adalah 2 ekor biri-biri umur 1-2 tahun. 15 ekor unta adalah 3 ekor biri-biri umur 1-2 tahun. 25 ekor unta adalah 1 ekor unta betina umur 1-2 tahun. 38 ekor unta adalah 1 ekor unta betina umur 2-3 tahun. 46 ekor unta adalah 1 ekor unta betina umur 3-4 tahun. 61 ekor unta adalah 1 ekor unta betina umur 4-5 tahun. 76 ekor unta adalah 2 ekor unta betina umur 2-3 tahun. 91 ekor unta adalah 2 ekor unta betina umur 2-3 tahun. 121 ekor unta adalah 3 ekor unta betina umur 2-3 tahun. Kemudian untuk tiap 40 ekor (seterusnya) zakatnya 1 ekor unta betina umur 2-3 tahun, dan untuk tiap 50 ekor (seterusnya) zakatnya 1 ekor unta betina umur 3-4 tahun.

أول نصاب البقر

وأول نصاب البقر ثلاثون وفيها تبيع وفي أربعين مسنة وعلى هذا أب.

NISHAB ZAKAT LEMBU

Permulaan nisab lembu itu 30 ekor, untuk jumlah ini zakatnya 1 ekor tabi’ (anak lembu jantan umur 2-3 tahun). 40 ekor lembu adalah 1 ekor musinnah (anak lembu betina umur 2-3 tahun) dan untuk seterusnya dapat dianalogikan.

أول نصاب الغنم

وأول نصاب الغنم أربعون وفيها شاة جذعة من الضأن أو ثنية من المعز وفي مائة وإحدى وعشرين شاتان وفي مائتين وواحدة ثلاث شياة وفي أربعمائة أربع شياة ثم في كل مائة شاة.

NISHAB ZAKAT KAMBING

Permulaan nisab kambing 40 ekor zakatnya adalah 1 ekor biri-biri (domba) yang telah tanggal gigi serinya (boleh juga yang berumur 1-2 tahun meskipun belum copot gigi serinya) atau 1 ekor kambing betina yang telah tanggal gigi serinya (boleh juga yang berumur 2-3 tahun meskipun belum tanggal gigi serinya). Untuk 121 ekor kambing zakatnya 2 ekor biri-biri (dengan keadaan gigi atau umur seperti di atas). 201 kambing zakatnya 3 ekor biri-biri (dengan keadaan gigi atau umur seperti di atas). Kemudian untuk seterusnya bagi tiap-tiap 100 ekor zakatnya 1 ekor biri-biri (dengan keadaan gigi atau umur seperti di atas).

(فصل) والخليطان يزكيان زكاة الواحد بسبع شرائط: إذا كان المراح واحدا والمسرح واحدا والمرعى واحدا والفحل واحدا والمشرب واحدا والحالب واحدا وموضع الحلب واحدا

Dua orang yang berserikat (memiliki kambing) mengeluarkan zakat (kambingnya) dengan 7 macam syarat: 1. Jika tempat menyimpan ternak itu satu; 2. tempat melepasnya satu; 3. tempat menggembalanya satu; 4. pejantannya satu; 5. tempat minumnya satu; 6. pemerahnya satu; 7. tempat pemerahnya satu.

زكاة الأثمان

وأما الأثمان فشيئان: الذهب والفضة. وشرائط وجوب الزكاة فيها خمسة أشياء: الإسلام والحرية والملك التام والنصاب والحول.

ZAKAT BARANG BERHARGA

Adapun zakat barang berharga ada dua perkara yaitu emas dan perak.

Adapun wajib zakatnya emas dan perak ada lima yaitu Islam, merdeka, kepemilikan yang sempurna, nisob, dan haul.

فنصاب الذهب عشرون مثقالا وفيه ربع العشر وهو نصف مثقال وفيما زاد بحسابه ونصاب الورق مائتا درهم وفيه ربع العشر وهو خمسة دراهم وفيما زاد بحسابه (مهمة) ولا تجب في الحلي المباح زكاة

NISHOB EMAS DAN PERAK

Nisab emas adalah 20 miskal (+/- 85 gram, jika 1 miskal 4.25 gram). Untuk jumlah ini zakatnya seperempatnya sepersepuluh (2.5%) yaitu sama dengan 1/2 miskal. Untuk selebihnya (dizakati) menurut perhitungan. Sedangkan nisab perak adalah 200 dirham (200 talen atau 672 gram) untuk jumlah ini zakatnya seperempatnya sepersepuluh (2.5%) yaitu (sama dengan) 5 dirham. Untuk selebihnya (dizakati) menurut perhitungannya.

(Perhatian) Untuk perhiasan emas / perak yang mubah (diperbolehkan) tidaklah wajib dizakati.

زكاة الزروع

وأما الزروع فتجب الزكاة فيها بثلاثة شرائط: أن يكون مما يزرعه الآدميون. وأن يكون قوتا مدخرا. وأن يكون نصابا وهو: “خمسة أوسق لا قشر عليها“.

ZAKAT TANAMAN

Adapun tanaman maka wajib zakat dengan tiga sarat: Yaitu: Tanaman bisa dibudidayakan anak adam,Tahan untuk disimpan, Mencapai satu nisob / batas minimal yaitu lima ausuq tanpa kulit.

نصاب الزروع والثمار

ونصاب الزروع والثمار خمسة أوسق وهي: ألف وستمائة رطل بالعراقي وفيما زاد بحسابه وفيها إن سقيت بماء السماء أو السيح، العشر وإن سقيت بدولاب أو نضح، نصف العشر

NISHOB TANAMAN DAN BUAH-BUAHAN

Nisab hasil pertanian dan buah-buahan itu 5 ausuq yaitu 1600 kati menurut neraca negeri Irak.[1]

Untuk selebihnya (harus dizakati) menurut perhitungannya. Dan untuk jumlah 5 ausuq tersebut, jika diairi dengan air hujan atau air sungai (yang mengalir sendiri ke sawah) maka zakatnya sepersepuluhnya (10%). Jika diairi (dengan air sungai atau perigi yang ditimba) dengan kerekan atau alat penyiram (yang digerakkan oleh tenaga binatang) maka zakatnya setengahnya sepersepuluh (5%).

وأما الثمار فتجب الزكاة في شيئين منها: ثمرة النخل. وثمرة الكرم وشرائط وجوب الزكاة فيها أربعة أشياء: الإسلام والحرية والملك التام والنصاب.

Adapun buah buahan maka wajib zakat dalam dua buah: buah kurma dan buh anggur. Dan ada empat saratnya yaitu: Islam, Merdeka, kepemilikan secara sempurna dan mencapai satu nisob / batas minimal.

وأما عروض التجارة فتجب الزكاة فيها بالشرائط المذكورة في الأثمان . وتقوم عروض التجارة عند آخر الحول بما اشتريت به ويخرج من ذلك ربع العشر

Adapun harta dagangan maka wajib zakat dengan sarat yang tersebut dalam barang berharga dan (Hendaklah) dihitung barang-barang dagangan itu ketika akhir tahun dengan harga berapa barang-barang itu telah dibeli. Dan wajiblah dikeluarkan dari harga barang-barang dagangan itu (jika telah mencapai nisabnya) seperempatnya sepersepuluh (2.5%).

وما استخرج من معادن الذهب والفضة يخرج منه ربع العشر في الحال وما يوجد من الركاز ففيه الخمس.

Apa yang telah digali dari tambang emas dan perak, harus dikeluarkan (zakat) dari padanya sepertempatnya sepersepuluh (2.5%) seketika itu juga. Dan apa yang didapat dari rikaz (barang-barang terpendam dari jaman jahiliyah) zakatnya adalah seperlima (20%)

Keterangan :

[1] 5 ausuq sama dengan 720 kg beras (padi tanpa kulit) atau 1200 kg (12 kwintal) padi.

Rincian perhitungan nisab beras sbb: 1 ausuq / wasaq beras = 60 sha’. 1 sha’ beras = 4 mud. 1 mud beras = 6 ons (kurang lebih). Jadi, 1 ausuq = 6 ons x 4 x 60 = 1440 ons. 5 ausuq = 5 x 1440 ons = 7200 ons (720 kg)

Rincian perhitungan nisab padi: 100 kg padi = 60 kg beras. Berarti, 60 kg beras = 100 kg padi. 600 kg beras = 1.000 kg padi. 720 kg beras = 1200 kg padi. Jadi, nisab padi adalah 1.200 kg padi (12 kwintal).

Open post

PENGERTIAN ISLAM

PENGERTIAN ISLAM

الإسلام لغة: هو الاستسلام، والتسليم، والانقياد، والخضوع. والذل

ISLAM menutut bahasa adalah menerima, berserah diri, tunduk, takluk, dan merendah

والإسلام شرعا: هو الإستسلام والتسليم لأمر الله، والانقياد لأمر الله، والذل لأمر الله من جميع الوجوه. فالإسلام هو الاستسلام والتسليم لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة ذلاً وخضوعاً وله معنيان:

ISLAM menurut syara` ialah: menerima dan pasrah terhadap perintah Allah, merendah terhadap perintah Allah dari segala cara. Jadi ISLAM itu:  menerima dan pasrah terhadap perintah Allah, dengan mentauhidkan NYA, tunduk terhadap Perintah NYA dengan Taat secara merendah dan takluk atas perintah tersebut, artinya: ketaatan terhadap perintah Allah tidak disertai sifat sombong / meragukan perintah tersebut. ISLAM meliki dua arti:

الأول: الانقياد والاستسلام لأمر الله طوعا وكرها. قال تعالى: أَفَغَيْرَ دِينِ اللّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ [ آل عمران: 83]. أي خضع وانقاد

  1. Makna Islam yang pertama adalah Tunduk dan pasrah terhadap perintah Allah baik suka maupun terpaksa. Allah berfirman yang artinya kurang lebih. Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan?

وقال عن ملكة سبأ: قِيْلَ لَهَا ادْخُلِى الصَّرْحَۚ فَلَمَّا رَاَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَّكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَاۗ قَالَ اِنَّه صَرْحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنْ قَوَارِيْرَ ۗ قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمٰنَ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

Dan Allah berfirman menceritakan tentang ratu Saba` (Balqis) yang artinya kurang lebih “Dikatakan kepadanya (Balqis), “Masuklah ke dalam istana.” Maka ketika dia (Balqis) melihat (lantai istana) itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya (penutup) kedua betisnya. Dia (Sulaiman) berkata, “Sesungguhnya ini hanyalah lantai istana yang dilapisi kaca.” Dia (Balqis) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh, aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (An-naml: 44)

الثاني: إخلاص العبادة لله عز وجل وحده لا شريك له. لقوله وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

  1. Makna Islam yang kedua adalah memurnikan ibadah hanya karena Allah saja, tidak menyekutukan NYA. Allah berfirman yang artinya kurang lebih “Mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, supaya mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus

والإسلام بالمعنى الثاني ينقسم إلى عام وخاص. العام هو: الدين الذي جاء به الأنبياء جميعا. وهو عبادة الله وحده لا شريك له. والخاص هو: ما جاء به نبينا محمد صلى الله عليه وسلم

Islam dengan makna kedua ini terbagi menjadi dua: Islam secara Umum dan Islam secara Khusus.

  1. Islam secara Umum adalah Agama yang di bawa oleh semua para Nabi yaitu menyembah Allah SWT saja dan tidak menyekutukan NYA. Dan
  2. Islam secara khusus adalah agama yang di bawa oleh Nabi kita Muhammad SAW dengan Syarat dan Rukunnya. Dan Islam inilah yang disebut dalam ayat:

اِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّٰهِ الاِسلَامُ ۗ وَمَا اختَلَفَ الَّذِينَ اُوتُوا الكِتٰبَ اِلَّا مِن بَعدِ مَا جَاءَهُمُ العِلمُ بَغيًا بَينَهُم‌. وَمَنْ يَّكفُر بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الحِسَابِ

Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (Ali Imron: 19)

وقال تعالى: الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِينًا.

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu. QS. Al-Maidah: 3

وقال سبحانه: وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi. QS. Ali Imron: 85

اركان الإسلام

RUKUN-RUKUN ISLAM

اركان الإسلام خمسة: شهادة أن لا إله إلا الله، وشهادة ان محمداً رسول الله وإقام الصلاة وهي خمس صلوات في اليوم والليلة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج البيت لمن استطاع إليه سبيلا، أي للقادرين. وهذه الأركان كما رُوي عن ابن عمر رضي الله عنهما  وصححه البخاري ومسلم. انه قال: سمعت رسول الله يقول: بُني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، الحج ، وصوم رمضان

Rukun-rukun Islam ada 5:

  1. Mengucapkan dua kalimah syahadat (Bresaksi dengan lisan dan hati bahwa tak ada tuhan yang di sembah kecuali Allah, dan bresaksi dengan lisan dan hati bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Allah.)
  2. Mendirikan sholat 5 waktu dalam sehari dan semalam.
  3. Memberikan Zakat fitrah setiap tgl 1 bulan Syawwal, dan Zakat-zakat yang lain bila memiliki usaha dan mencapai nishobnya.
  4. Berpuasa pada tiap-tiap wulan Romadlon.
  5. Menunaikan ibadah hajji bagi yang mampu.

شروط الإسلام

SYARAT-SYARAT ISLAM

Syarat-syarat sahnya islam itu ada enam sebagaimana di jelaskan dalam kitab Hasyiyah Bujarimi alal khotib:

شُرُوْطُ الْإِسْلَامِ بِلَا اشْتِبَاهِ … عَقْلٌ بُلُوْغٌ عَدَمُ الْإِكْرَاهِ
وَالنُّطْقُ بِالشَّهَادَتَيْنِ وَالْوِلَا … كَذَلِكَ التَّرْتِيْبُ فَاعْلَمْ وَاعْمَلَا

اهـ: حاشية البجيرمي

Syarat-syarat masuk islam itu ada enam tanpa ada kesamaran lagi, yaitu: Beraqal, Baligh, Tidk di paksa, Mengucapkan dua kalimat syahadah, Berkali-kali mengucapkan Syahadat, (tetapi menurut Imam Romli cukup sekali di luar sholat), Berturut-turu dalam mengucapkan dua kalimah Syahadah

Perhatian !

Islam bisa saja hilang dari seorang hamba sebab 4 perkara sebagaimana Ulama`  (Al-syekh Muhammad bin Al-fadl-li Albalkhi) berkata:

ذِهَابُ الْإِسْلَامِ مِنْ أَرْبَعَةٍ: أَوَّلُهَا: لَايَعْمَلُوْنَ بِمَا يَعْلَمُوْنَ، وَالثَّانِى: يَعْمَلُوْنَ بِمَا لَايَعْلَمُوْنَ، وَالثَّالِثُ: لَايَتَعَلَّمُوْنَ مَا لَايَعْلَمُوْنَ، وَالرَّابِعُ: يَمْنَعُوْنَ النَّاسَ مِنَ التَّعَلُّمِ،

hilangnya ISLAM disebabkan empat hal yaitu :

– Tidak mengamalkan / mengerjakan apa yang sudah diketahui.

– Mengamalkan apa yang tidak diketahui (beramal tidak berilmu).

– Tidak mau mempelajari apa yang tidak diketahui.

Open post

PILAR-PILAR AGAMA DAN POSISINYA BAGI MANUSIA

PILAR-PILAR AGAMA DAN POSISINYA BAGI MANUSIA

Oleh: Muhammad Afif Zuhri

الدِّيْنُ لَهُ مَنَازِلٌ ثَّلَاثَةٌ الَّتِيْ يَنْزِلُهَا الْمُرِيْدُ وَلَايَرْتَحِلُ عَنْهَا.

Agama mempunyai  tiga pilar, dimana seorang Murid harus berada pada posisi itu semua dan tidak boleh lari dari semuanya.

POSISI DAN KEDUDUKAN ISLAM BAGI SEORANG HAMBA

هٰذِهِ الثَّلَاثُةُ هِيَ مَنْزِلُ الْإِسْلَامُ، وَهُوَ مَحَلُّ تَطْهِيْرِ الْجَوَارِحِ الظَّاهِرَةِ مِنَ الذُّنُوْبِ وَتَحْلِيَتُهَا بِطَاعَةِ عَلَّامِ الْغُيُوْبِ.

Tiga posisi tersebut adalan Posisi ISLAM, yaitu Posisi / tempat penyucian anggota-anggota lahir dari segala dosa dan menghiasinya dengan keta’at terhadap Allah ‘allam al ghuyub (uhan yang mengetahui semua yang gaib).

POSISI DAN KEDUDUKAN IMAN BAGI SEORANG HAMBA

وَمَنْزِلُ الْإِيْمَانُ، وَهُوَ مَحَلُّ تَطْهِيْرِ الْقُلُوْبِ مِنَ الْمَسَاوِى وَالْعُيُوْبِ، وَتَحْلِيَتُهَا بِمَقَامَاتِ الْيَقِيْنِ، لِتَتَهَيَّأَ لِحَمْلِ مَعْرِفَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Posisi IMAN  ialah: Posisi / tempat penyucian hati dari perbuatan buruk dan sifat-sifat tercela dan menghiasinya dengan maqom-maqom yaqin agar siap untuk menggapai ma’rifatullah Robbil-alamin.

POSISI DAN KEDUDUKAN IHSAN BAGI SEORANG HAMBA

وَمَنْزِلُ الْإِحْسَانُ، وَهُوَ مَحَلُّ الشُّهُوْدِ وَالْعِيَانُ.‎

Posisi IHSAN adalah Posisi / tempat di mana seorang hamba dapat bermusyahadah (melihat Allah dengan mata hati) atau merasa selalu diawasi Allah.

Open post

ISTILAH-ISTILAH DALAM HADITS.

ISTILAH-ISTILAH DALAM HADITS.

  1. AL-HADITS ialah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan, taqrir, dan sebagainya.
  2. ATSAR ialah sesuatu yang disandarkan kepada para sahabat Nabi Muhammad SAW.
  3. TAQRIR ialah keadaan Nabi Muhammad SAW yang mendiamkan, tidak mengadakan sanggahan atau menyetujui apa yang telah dilakukan atau diperkatakan oleh para sahabat di hadapan beliau.
  4. SHAHABAT ialah orang yang bertemu Rosulullah SAW dengan pertemuan yang wajar sewaktu beliau masih hidup, dalam keadaan islam lagi beriman dan mati dalam keadaan islam.
  5. TABI’IN ialah orang yang menjumpai sahabat, baik perjumpaan itu lama atau sebentar, dan dalam keadaan beriman dan islam, dan mati dalam keadaan islam.
  6. RAWI yaitu orang yang menyampaikan atau menuliskan hadits dalam suatu kitab apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang atau gurunya. Perbuatannya menyampaikan hadits tersebut dinamakan merawi atau meriwayatkan hadits dan orangnya disebut perawi hadits.
  7. MATAN HADITS adalah pembicaraan atau materi berita yang berakhir pada sanad yang terakhir. Baik pembicaraan itu sabda Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, sahabat ataupun tabi’in. Baik isi pembicaraan itu tentang perbuatan Nabi, maupun perbuatan sahabat yang tidak disanggah oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam .
  8. SANAD atau THARIQ adalah jalan yang dapat menghubungkan matan hadits kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
  9. KUTUBUT TIS’AH adalah kitab hadits yang diriwayatkan oleh sembilan perawi, yaitu : Ahmad, 2. Bukhari, 3. Muslim, 4. Abu Dawud, 5. Turmudzi, 6. An-Nasa’i, 7. Ibnu Majah, 8. Imam Malik, 9. Ad Darimy.
  10. AS SAB’AH berarti diriwayatkan oleh tujuh perawi, yaitu : 1. Ahmad, 2. Bukhari, 3. Muslim, 4. Abu Dawud, 5. Turmudzi, 6. An-Nasa’i, 7. Ibnu Majah.
  11. AS SITTAH berarti diriwayatkan oleh enam perawi yaitu : Semua nama yang tersebut diatas (As Sab’ah) selain Ahmad.
  12. AL KHOMSAH berarti diriwayatkan oleh lima perawi yaitu : Semua nama yang tersebut diatas (As Sab’ah) selain Bukhari dan Muslim
  13. AL ARBA’AH berarti diriwayatkan oleh empat perawi yaitu : Semua nama yang tersebut diatas (As Sab’a) selain Ahmad, Bukhari dan Muslim.
  14. ATS TSALASAH berarti diriwayatkan oleh tiga perawi yaitu : Semua nama yang tersebut diatas (As Sab’ah) selain Ahmad, Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah.
  15. ASY SYAIKHON berarti diriwayatkan oleh dua orang perawi yaitu : Bukhari dan Muslim
  16. AL JAMA’AH berarti diriwayatkan oleh para perawi yang banyak sekali jumlahnya (lebih dari tujuh perawi (As Sab’ah).

ISTILAH-ISTILAH HADITS YANG DAPAT DIJADIKAN SEBAGAI DALIL.

  1. HADITS SHAHIH adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, sempurna ingatan, sanadnya bersambung, tidak ber illat dan tidak janggal. Illat hadits yang dimaksud adalah suatu penyakit yang samar-samar yang dapat menodai keshohihan suatu hadits.
  2. HADITS MAQBUL adalah hadits-hadits yang mempunyai sifat-sifat yang dapat diterima sebagai Hujjah. Yang termasuk hadits makbul adalah Hadits Shohih dan Hadits Hasan.
  3. HADITS MARFU’ adalah hadits yang diriwayatkan dari Nabi saw, oleh seorang rawi kepada seorang rawi hingga sampai pada ulama MUDAWWIN (pencatat hadits), seperti Bukhari, Muslim, Abu Daud dan lain-lain. Disebut marfu’ karena hadits yang riwayatnya diangkat sampai kepada Nabi SAW.
  4. HADITS MAUSHUL adalah hadits yang sanadnya sampai/tersambung kepada Nabi saw, dengan tidak terputus. Sering juga disebut dengan MUTTASHIL.
  5. HADITS MUTAWATIR adalah suatu hadits hasil tangkapan dari panca indra, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang menurut adat kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat dusta.
  6. HADITS AHAD adalah hadits yang tidak memenuhi syarat syarat hadits mutawatir.
  7. HADITS MASYHUR adalah hadits yang diriwayatkan oleh 3 orang rawi atau lebih, serta belum mencapai derajat mutawatir.
  8. HADITS AZIZ adalah hadits yang diriwayatkan oleh 2 orang rawi, walaupun 2 orang rawi tersebut pada satu thabaqah (lapisan) saja, kemudian setelah itu orang-orang meriwayatkannya.
  9. HADITS GHARIB adalah hadits yang dalam sanadnya terdapat seorang yang menyendiri dalam meriwayatkan, dimana saja penyendirian dalam sanad itu terjadi.
  10. HADITS HASAN adalah hadits yang diriwayatkan oleh Rawi yang adil, tapi tidak begitu kuat ingatannya (hafalan), bersambung sanadnya, dan tidak terdapat illat serta kejanggalan pada matannya. Hadits Hasan termasuk hadits yang Makbul, biasanya dibuat hujjah buat sesuatu hal yang tidak terlalu berat atau terlalu penting.

ISTILAH-ISTILAH HADITS YANG MEMILIKI CACAT.

  1. HADITS DHOIF adalah hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadits shohih atau hadits hasan. Hadits Dho’if banyak macam ragamnya dan mempunyai perbedaan derajat satu sama lain, disebabkan banyak atau sedikitnya syarat-syarat hadits shohih atau hasan yang tidak dipenuhinya.
  2. HADITS MAUDHU’ adalah hadits yang diciptakan oleh seorang pendusta yang ciptaan itu mereka katakan bahwa itu adalah sabda Nabi SAW, baik hal itu disengaja maupun tidak.
  3. HADITS MATRUK adalah hadits yang menyendiri dalam periwayatan, yang diriwayatkan oleh orang yang dituduh dusta dalam perhaditsan.
  4. HADITS MUNKAR adalah hadits yang menyendiri dalam periwayatan, yang diriwayatkan oleh orang yang banyak kesalahannya, banyak kelengahannya atau jelas kefasiqkannya yang bukan karena dusta. Di dalam satu jurusan jika ada hadits yang diriwayatkan oleh dua hadits lemah yang berlawanan, misal yang satu lemah sanadnya, sedang yang satunya lagi lebih lemah sanadnya, maka yang lemah sanadnya dinamakan hadits Ma’ruf dan yang lebih lemah dinamakan hadits Munkar.
  5. HADITS MU’ALLAL (Ma’lul, Mu’allal) adalah hadits yang tampaknya baik, namun setelah diadakan suatu penelitian dan penyelidikan ternyata ada cacatnya. Hal ini terjadi karena salah sangka dari rawinya dengan menganggap bahwa sanadnya bersambung, padahal tidak. Hal ini hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang ahli hadits.
  6. HADITS MUDRAJ (saduran) adalah hadits yang disadur dengan sesuatu yang bukan hadits atas perkiraan bahwa saduran itu termasuk hadits.
  7. HADITS MAQLUB adalah hadits yang terjadi mukhalafah (menyalahi hadits lain), disebabkan mendahului atau mengakhirkan.
  8. HADITS MUDLTHARRIB adalah hadits yang menyalahi dengan hadits lain terjadi dengan pergantian pada satu segi yang saling dapat bertahan, dengan tidak ada yang dapat ditarjihkan (dikumpulkan).
  9. HADITS MUHARRAF adalah hadits yang menyalahi hadits lain terjadi disebabkan karena perubahan Syakal kata, dengan masih tetapnya bentuk tulisannya.
  10. HADITS MUSHAHHAF adalah hadits yang mukhalafahnya karena perubahan titik kata, sedang bentuk tulisannya tidak berubah.
  11. HADITS MUBHAM adalah hadits yang didalam matan atau sanadnya terdapat seorang rawi yang tidak dijelaskan apakah ia laki-laki atau perempuan.
  12. HADITS SYADZ (kejanggalan) adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang yang makbul (tsiqah) menyalahi riwayat yang lebih rajih, lantaran mempunyai kelebihan kedlabithan atau banyaknya sanad atau lain sebagainya, dari segi pentarjihan.
  13. HADITS MUKHTALITH adalah hadits yang rawinya buruk hafalannya, disebabkan sudah lanjut usia, tertimpa bahaya, terbakar atau hilang kitab-kitabnya.
  14. HADITS MU’ALLAQ adalah hadits yang gugur (inqitha’) rawinya seorang atau lebih dari awal sanad.
  15. HADITS MURSAL adalah hadits yang gugur dari akhir sanadnya, seseorang setelah tabi’in.
  16. HADITS MUDALLAS adalah hadits yang diriwayatkan menurut cara yang diperkirakan, bahwa hadits itu tiada bernoda. Rawi yang berbuat demikian disebut Mudallis.
  17. HADITS MUNQATHI’ adalah hadits yang gugur rawinya sebelum sahabat, disatu tempat, atau gugur dua orang pada dua tempat dalam keadaan tidak berturut-turut.
  18. HADITS MU’DLAL adalah hadits yang gugur rawi-rawinya, dua orang atau lebih berturut turut, baik sahabat bersama tabi’in, tabi’in bersama tabi’it tabi’in, maupun dua orang sebelum sahabat dan tabi’in.
  19. HADITS MAUQUF adalah hadits yang hanya disandarkan kepada sahabat saja, baik yang disandarkan itu perkataan atau perbuatan dan baik sanadnya bersambung atau terputus.
  20. HADITS MAQTHU’ adalah perkataan atau perbuatan yang berasal dari seorang tabi’in serta di mauqufkan padanya, baik sanadnya bersambung atau tidak.
  21. MUHADDITS adalah orang yang menyibukkan diri dengan ilmu hadits secara riwayat dan dirayat (fiqih hadits), serta banyak mengetahui para rawi dan keadaan mereka.
  22. AL-HAFIZH aalah orang yang kedudukannya lebih tinggi dari muhaddits, yang ia lebih banyak mengetahui rawi di setiap tingkatan sanad.
  23. TSIQAH adalah (Rawi yang) tepercaya, artinya tepercaya kejujuran dan keadilannya serta kuat hafalan dan penjagaannya terhadap hadits.
  24. MARDUD adalah hadis yang ditolak karena tidak memenuhi syarat-syarat hadis maqbul.
  25. MUSNAD adalah Sebutan untuk kumpulan hadis dengan menyebutkan sanadnya. Sebutan untuk sebuah kitab yang menghimpun hadis-hadis dengan cara penyusunan berdasarkan nama-nama sahabat.

AMIRUL MU’MINIIN FIL HADITS

Gelar ini sebenarnya diberikan kepada para khalifah setelah Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Para khalifah diberikan gelar demikian mengingat jawaban Nabi shallahu ‘alaihi wasallam atas pertanyaan seorang sahabat tentang “Siapakah yang dikatakan khalifah”?, bahwa khalifah ialah orang-orang sepeninggal Nabi yang meriwayatkan haditsnya. Para Muhadditsiin pada masa itu seolah-olah berfungsi sebagai khalifah dalam menyampaikan sunnah. Mereka yang memperoleh gelar ini antara lain : Syu’bah Ibnu al-Hajjaj. Sufyan ats-Tsauri. Ishaq bin Rahawaih ( Rohuyah). Ahmad bin Hambal. al-Bukhari, ad-Daruquthni dan Imam Muslim.

AL-HAKIM

Alhakim adalah: orang yang menguasai seluruh ilmu-ilmu hadits, sehingga tidak ada yang tertinggal darinya.[Taisir Musthalaahul hadits. Hal : 17]

Alhakim adalah: suatu gelar keahlian bagi imam-imam hadits yang menguasai seluruh hadits yang marwiyah (diriwayatkan), baik matan maupun sanadnya dan mengetahui ta’dil (terpuji) dan tajrih (tercelanya) rawi-rawi.

Alhakim harus mengetahui sejarah hidup setiap rawi, perjalanannya, guru-guru dan sifat-sifatnya yang dapat diterima maupun yang ditolak. Al-hakim harus dapat menghafal hadits lebih dari 300.000 hadits beserta sanadnya.[Tuhfatul ahwadzi bi Syarhi Jaami’ at-Tarmidzi. Hal : 10]

Para muhadditsiin yang mendapat gelar ini antara lain : Ibnu Dinar (meninggal 162 H). al-Laits bin Sa’ad beliau seorang mawali yang menderita buta di akhir hayatnya meninggal 175 H). Imam Malik (179). dan Imam Syafii (204 H).

AL-HUJJAH

Al-hujjaj adalah: gelar keahlian bagi para Imam yang sanggup menghafal 300.000 hadits, baik matan, sanad, maupun perihal si rawi tentang keadilannya, kecacatannya, biografinya (riwayat hidupnya). Para muhadditsiin yang mendapat gelar ini antara lain ialah: Hisyam bin Urwah (meninggal 146 H). Abu hudzail Muhammad bin al-Walid (meninggal 149 H). dan Muhammad Abdullah bin Amr (meninggal 242 H). [Tuhfatul ahwadzi bi Syarhi Jaami’ at-Tarmidzi. Hal : 10]

AL-HAFIDH

Al-hafidh adalah gelar untuk ahli hadits yang dapat menshahihkan sanad dan matan hadits dan dapat men-ta’dil-kan dan men-jarh-kan rawinya. Seorang al-hafidh harus menghafal hadits-hadits shahih, mengetahui rawi yang waham (banyak purbasangka), illat-illat hadits dan istilah-istilah para muhadditsiin. Menurut sebagian pendapat, al-hafidh itu harus mempunyai kapasitas hafalan 100.000 hadits. Para muhadditsiin yang mendapat gelar ini antara lain : al-Iraqi, Syarifuddin ad-Dimyathi. Ibnu Hajar al-Asqalani, dan Ibnu Daqiqi al-’Ied. [Tuhfatul ahwadzi bi Syarh Jaami’ at-Tarmidzi. Hal : 10]

AL-MUHADDITS

Menurut muhadditsiin-muhadditsiin mutaqaddimin, al-hafidh dan al-muhaddits itu searti. Tetapi, menurut muta’akhiriin, al-hafidh itu lebih khusus daripada al-muhaddits. Kata at-Tajus Subhi, “al-muhaddits ialah orang yang dapat mengetahui sanad-sanad, illat-illat, nama-nama rijal (rawi-rawi), ‘ali (tinggi), dan naazil (rendah)-nya suatu hadits, memahami kutubus sittah, Musnad Ahmad, Sunan al-Baihaqi, Majmu` Thabarani, dan menghafal hadits sekurang-kurangnya 100 hadits. Muhadisin yang mendapat gelar ini antara lain : Atha’ bin Abi Rabbah (wafat 115 H). Ibnu Katsir dan Imam az-Zabidi.

AL-MUSNID

Al-Musnid adalah: orang yang meriwayatkan hadist dengan (menyebutkan) sanadnya, baik dia mengetahui hadits itu atau tidak mengetahui kecuali hanya sekedar meriwayatkannya. Para ulama juga tidak menjelaskan apakah seorang yang diistilahkan musnid harus mendapatkan riwayatnya dengan cara sama’ dan qiraah atau tidak. Sehingga yang tampak dari perkataan para ulama, seorang musnid tidak mesti mendapatkan riwayatnya melalui sama’ atau qiraah. Bahkan, kalaupun ia mendapatkan riwayatnya melalui ijazah, hal itu sudah mencukupi baginya untuk disebut sebagai seorang musnid, terutama pada zaman dimana orang-orang sudah kurang perhatian dalam permasalahan riwayah, dan sedikitnya manusia yang menjaga majlis sama’ dan qiraah.

HADITS QUDSI ATAU HADITS RABBANI ATAU HADITS ILAHI

Hadits tersebut adalah: sesuatu yang dikabarkan oleh Allah kepada Nabi-Nya dengan melalui wahyu atau impian, yang kemudian nabi menyampaikan makna dari wahyu atau impian tersebut dengan ungkapan kata beliau sendiri.

PERBEDAAN HADITS QUDSI DENGAN HADITS NABAWI

Pada hadits qudsi biasanya diberi ciri-ciri dengan dibubuhi kalimat-kalimat :Qala / yaqulu  Allahu. Fima yarwihi ‘anillahi Tabaraka wa Ta’ala / Lafadz-lafadz lain yang semakna dengan apa yang tersebut diatas.

PERBEDAAN HADITS QUDSI DENGAN AL-QUR’AN

Semua lafadz-lafadz Al-Qur’an adalah mukjizat dan mutawatir, sedang hadits qudsi tidak demikian. Ketentuan hukum yang berlaku bagi Al-Qur’an, tidak berlaku pada hadits qudsi. Seperti larangan menyentuh / membaca Alqur`an bagi orang yang berhadats besar, tetapi boleh baginya menyentuh dan membaca Hadits Qudsi dll.

Setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur’an memberikan hak pahala kepada pembacanya. Meriwayatkan Al-Qur’an tidak boleh dengan maknanya saja atau mengganti lafadz sinonimnya, sedangkan hadits qudsi tidak demikian. Itulah beberapa istilah dalam hadits yang sering kita dengar yang sebenarnya masih banyak lagi istilah-istilah lain yang berhubungan dengan ilmu hadits. (Referensi dari berbagai sumber kitab kitab Hadits dan Mustholahul Hadits)

Open post

SINGKATAN / RUMUZ NAMA-NAMA ULAMA’ DALAM ISLAM

SINGKATAN / RUMUZ NAMA-NAMA ULAMA’ DALAM ISLAM

  1. ر م Syihâb ad-Dîn Ahmad bin Hamza ( ar-Ramly al-Kabîr ).
  2. مـر Syams ad-Dîn Muhammad bin Ahmad (ar-Ramly As- Saghîr 919 – 1004 H ).
  3. حـج Ibn Hajar al-Haitamy ( 909 – 973 H. )
  4. خـط Al-Khathîb as-Syirbîny ( … – 977 H. ).
  5. ز ي Nûr ad-Dîn ‘Ali az-Zayâdy atau az-Ziyâdy ( … – 1024 H.).
  6. س م / س ب Syihâb ad-Din bin Qâsîm al-Abâdy( 964 – 922 / 994 H.)
  7. ظ ب Nashîr ad-Dîn Manshûr at-Thablawy ( … – 1014 H.).
  8. ب ر Abû Abdillâh Muhammad bin Abdud-Daim Al-Barmawy .( 763 – 831 H.).
  9. با ج Al-Baijury ( 1198 – 1277 H.).
  10. أ ج Al- ‘Allâmah ‘Athiyyatullâh bin Athiyah al-Burhân ( … – 190 H.).
  11. ح ف Asy-Syamsu Muhammad bin Sâlim al-Hafnawy ( 1101 – 1181 H.).
  12. ش ق / ش ر ق Abdullâh bin Hijâz bin Ibrâhîm as-Syarqawy ( 1150 – 1226 / 1227 H).
  13. حا ل / ح ل Nûr ad-Dîn ‘Ali bin Ibrâhîm al-Halaby ( 975 – 1044 H.).
  14. ع ش ‘Ali Syibramalisy; Nûr ad-Dîn Abû Dliyâ’ ‘Ali bin ‘Ali ( 997 – 1087 H.).
  15. ق ل Syihâb ad-Din Ahmad bin Salâmah al-Qulyûby ( … – 1069 H.).
  16. س ل Sulthân bin Ahmad al-Mazâkhi ( 985 – 1075 H.).
  17. ع ن Muhammad al-‘Inâni ( … – 1098 H.).
  18. ب ج Sulaimân bin Muhammad bin ‘Umar al- Bujairamy.
  19. خ ض Syamsu Muhammad Syaubary al-Khadry ( 977 – 1069 H.).
  20. م د Hasan bin ‘Ali Ahmad al-Mudâbiry ( … – 1170 H.).
  21. ع ب / ع ب د Abd al-Hamid; asy-Syekh Abd al-Hamid ad-Daghistâny.
  22. أ ط Muhammad bin Manshûr al-Ithfihy al-Mishry.
  23. ي As-Sayyid bin Abdullâh bin ‘Umar al-Alawy ( 1209 – 1265 H.).
  24. ك / ك ر Asy-Syekh Muhammad bin Sulaimân al-Kurdy ( … – 1194 H.)

Open post

UKURAN DAN TAKARAN DALAM ILMU FIQIH

UKURAN DAN TAKARAN DALAM ILMU FIQIH

  1. Satu QIROTH menurut imam Tsalasah                 : 0,215 Gr
  2. Satu DIRHAM menurut imam Tsalasah                : 2,715 Gr
  3. Satu MITSKOL menurut imam Tsalasah               : 3,879 Gr
  4. Satu DANIQ menurut imam Tsalasah                    : 0,430 Gr
  5. Satu DZIRO’ Al-Mu’tadil menurut Aktsarin-Nas : 48 Cm

Menurut Al Makmun                                                  : 41,666625 Cm

Menurut An-Nawawi                                                  : 44,720 Cm

Menurut Ar-Rofi’I                                                       : 44,820 Cm

  1. Satu MUD Menurut Imam Tsalatsah                     : 9,22 Cm (P x L x T ) = 0,766 Ltr
  2. Satu SHO Menurut Imam Tsalatsah                      : 14,65 Cm (P x L x T ) = 3,145 Ltr
  3. Satu WASAQ Menurut Imam Tsalatsah                : 57,32 Cm (P x L x T ) = 188,712 Ltr
  4. Satu SHO’ Gandum (Hinthoh) Menurut Imam An-Nawawi       : 1.862,18 Gr
  5. Satu MUD Gandum (Hinthoh) Menurut Imam An-Nawawi       : 456,54 Grm
  6. Satu SHO’ Beras putih                                                                          : 2.719,19 Grm
  7. Satu Mud Beras putih                                                                           : 679,79 Grm
  8. Air DUA KULAH Menurut An-Nawawi                                            : 55,9 Cm ( P x L x T ) = 174,580 Ltr

Menurut Ar-Rofi’iy                                                : 56,1 Cm (P x L x T ) = 176,245 Ltr

Menurut Ahli Iraq                                                  : 63,4 Cm (P x L x T ) = 245,325 Ltr

Menurut Aksarin-Nas                                            : 60 Cm (P x L x T ) = 187,385 Ltr

  1. Zakat Fitrah adalah satu SHO’                                                              : 2.719,19 Grm = 2,71919 Kg
  2. Jarak Qosor Sholat menurut    –  Kitab Tanwirul Qulub                  : 80,640 Km

–  Al-Ma`Mun                                    : 89,999992 Km

– Ahmad Husain                               : 94,500 Km

– Aksarul Fuqha                                : 119,99988 Km

– Hanafiyyah                                      : 96 km

– Kitab Fiqh al-Islamy                     : 88, 74 km

– Imam Ahmad Husain al-Mishry: 94, 5 km

  1. Satu Mil menurut / Versi Imam Makmûn                                         : 1, 666665 km

Versi Imam Ahmad Husain al-Mishry   : 1, 76041 km

Versi Mayoritas ulama’                            : 2, 4999975 km

  1. Farsakh: Versi Imam Makmûn                                                             : 4, 99995 km

Versi Imam Ahmad Husain al-Mishry                               : 5, 28125 km

Versi Mayoritas ulama’                                                         : 7, 4999925 km

  1. RITL BAGDAD menurut: – An-Nawawi                                            : 349,16 Grm

– Ar-Rofi’I                                                 : 353,49 Grm

  1. NISHOB SARIQOH emas menurut Imam Tsalasah                       : 0,97 Grm
  2. Satu UQIYAH                                                                                          : 12 Dirham
  3. Satu DIRHAM : 2 Gram

DAFTAR NISOB DAN ZAKAT HARTA ZAKAWIY

  1. Perak 543,35Gr 1/40=13,584 Gr   zakatnya                               : 2,5% Dikeluarkan setelah 1 thn
  2. Tambang Perak 543,35Gr 1/40=13,584Gr                                 : 2,5% Dikeluarkan seketika
  3. Rikaz Perak 543,35Gr 1/5=108,67 Gr                                          : 20% Dikeluarkan seketika
  4. Harta dagang dgn modal perak 543,35Gr 1/40 =13,584 Gr    : 2,5% Ditaksir dengan perak dan dikeluarkan setelah 1 thn
  5. Emas 77,58Gr 1/40 =1,9395 Gr                                                     : 2,5% Dikeluarkan setelah 1 thn
  6. Tambang Emas 77,58Gr 1/40 =1,9395 Gr                                   : 2,5% Dikeluarkan seketika
  7. Rikaz Emas 77,58Gr 1/5=15,516Gr                                               : 20% Dikeluarkan seketika
  8. Harta dagang dgn modal emas 77,58Gr 1/40 =1,9395 Gr        : 2,5% Ditaksir dgn emas dan dikeluarkan setelah 1 thn
  9. Gabah Tanpa biaya pengairan, 1.323,132 Kg. 1/10=132,3132 Kg         : 10%
  10. Gabah dg biaya pengairan 1.323,132 Kg. 1/20=66,1566Kg                   : 5%
  11. Padi gagang Tanpa biaya pengairan 1.31,516 Kg 1/10=163,1516Kg     : 10%
  12. Padi gagang dg. biaya pengairan 1.31,516 Kg 1/20=81,5758 Kg.          : 5%
  13. Beras Tanpa biaya pengairan 815,758 Kg 1/10=81,5758 Kg.                 : 10%
  14. Beras dg. biaya pengairan 15,758 Kg 1/20=40,7879 Kg.                         : 5%
  15. Gandum Tanpa biaya pengairan 558,654 Kg 1/10=55,8654 Kg.           : 10%
  16. Gandum dg. biaya pengairan 558,654 Kg 1/20=27,9327 Kg.                 : 5%
  17. Kacang tunggak Tanpa biaya pengairan 756,697 Kg 1/10=75,6697Kg : 10%
  18. Kacang tunggak dg. biaya pengairan 756,697 Kg 1/20=37,83485 Kg. : 5%
  19. Kacang Hijau Tanpa biaya pengairan 780,036Kg 1/10=78,0036 Kg.  : 10%
  20. Kacang Hijau dg. biaya pengairan 780,036Kg 1/20=39,0018 Kg.        : 5%
  21. Jagung kuning Tanpa biaya pengairan 720 Kg 1/10=72 Kg                   : 10%
  22. Jagung kuning dg. biaya pengairan 720 Kg 1/20=36 Kg.                       : 5%
  23. Jagung Putih Tanpa biaya pengairan 714 Kg 1/10=71,4 Kg                    : 10%
  24. Jagung Putih dg. biaya pengairan 714 Kg 1/20=35,7 Kg.                        : 5%

KETERANGAN

  1. Perhitungan awal tahun pd zakat hewan ternak dimulai dari memilikinya dlm jumlah 1 nishob, begitu juga pada emas & perak. Sedangkan utk barang dagangan maka:
  • Bila modal dagang diambilkan dari emas / perak yg sudah genap 1 nishob baik dipakai semua atau tdk, maka penghitungan tahun dimulai dari pemilikan emas / perak
  • Bila modal dagang berasal dari selain emas / perak yg telah mencapai 1 nishob, maka penghitungan tahun dimulai dari permulaan berdagang.
  1. Daftar nishob dan ukuran di atas dikutif dari kitab “FATHIL-QODIR” susunan Syaikh Ma’sum bin Ali Quwaron, Jombang.
  2. Yang dimaksud dgn Imam Tsalatsah di atas adalah Imam Maliki, Imam Syafi’I dan Imam Hambali.
  3. Nishob emas pada daftar di atas adalah nishob emas murni (emas dgn kadar 100%). Sedangkan utk mencari nishob emas yg tdk murni (emas dgn kadar kurang dari 100%) yaitu dgn cara: Nishob emas murni (77,58) dibagi kadar emas yg tdk murni kemudian hasilnya dikalikan dgn kadar emas murni (100) Contoh:

Untuk pencarian Nishob emas dgn kadar 90%:

Nishob = 77,58 : 90 x 100 = 86,2 Gr Zakat yg harus dikeluarkan

– 2,5% (1/40) = 2,155 Gr

– 2,0% (1/50) = 17,24 Gr

Untuk pencarian Nishob emas dgn kadar 75%:

Nishob = 77,58 : 75 x 100 = 103,44 Gr Zakat yg harus dikeluarkan

  • 2,5% (1/40) = 2,586 Gr
  • 2,0% (1/50) = 20,688 Gr
  1. Nishob dan ukuran utk jenis biji-bijian dengan menggunakan berat / gram sebagai mana daftar di atas adalah hanya pendekatan saja. Sebab ukuran yang asal menurut Syara’ adalah dengan menggunakan Sho’ / Wasaq yang ada pada jaman Rasululloh SAW, maka dihimbau kepada kaum muslimin apabila ada perbedaan pendapat dalam menentukan berat kadar nishob, agar mengambil kadar yang ukurannya telah diyakini tidak kurang dari kadar yang telah ditentukan Syara’. (Fathul Wahhab 1/114 dan Sullamut-Taufiq: 41)
Scroll to top