BPP
(BADAN PENYUSUNAN DAN PENERBITAN)
Latar belakang di bentuknya Badan penyusunan dan Penerbitan:
Sebagaimana kita ketahui bahwa SYIARUL ISLAM WALMUSLIMIN itu berkaitan erat dengan Da`wah Islamiyyah ala Ahlissunnah wal Jamaah, dan sangatlah penting jika pengembangannya itu melalui berbagai macam cara dan metode, salah satu di antaranya adalah: penyusunan dan penerbitan, karena tidak semua orang Indonesia bisa memahami Al-quran, Al-hadits dan kitab-kitab berbahasa arab tanpa di terjemahkan dan tanpa di jelaskan dengan bahasa Indonesia. Karena itu di perlukan Penyusunan dan penerbitan karya karya yg bertujuan untuk memudahkan pemahaman, dan pentela`ahan
Dikalangan Ummat Islam terutama warga pesantren penyusunan dan penerbitan kitab merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Da`wah Islamiyyah, dan cara seperti ini lah dakwah yang pernah dilakukan oleh para sahabat di zama Khulafair-Rosyidin dan para wali zaman dulu ketika menyebarkan ajaran Islam di Indonesia. Karena itu SYIARUL ISLAM WALMUSLIMIN JAMAAH ALWASILAH memandang perlu untuk membentuk Badan Penyusunan dan Penerbitan (BPP) agar bisa:
- Memudahkan dalam memahami kitab-kitab Islam yang berbahasa Arab bagi masyarakat awam.
- Menerbitkan Pedoman amaliyah Yaumiyyah, Usbu`iyyah, dan Syahriyyah bagi Jamaah Al-wasilah menurut Ulama` Ahlis-sunnah Wal-Jamaah.
- Menemukan trobosan baru dalam mencari solusi keummatan hususnya bagi Jamaah Al-wasilah.
- Mengembangkan buah pemikiran dari para pemikir dan penulis dari JAMA`AH ALWASILAH
- Menyelamatkan khazanah dan manuskrip ulama` Nusantara dengan terus menerus mempelajarinya dan menerbitkannya.
Landasan dasar di bentuknya Badan penyusunan dan Penerbitan:
- Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ۞ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۞ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُ ۞ لَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
Bacalah dengan nama Rabb-mu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabb-mu adalah yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan (perantara) pena.” (Q.S. Al-Alaq [96] ayat 1-4)
Penjelasannya
Wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah perintah membaca, Jika ada perintah membaca tentu ada yang di baca. (yakni bacalah dari hafalanmu. Jika tidak ada, maka bacalah dari tulisan) Jadi untuk memudahkan membaca harus ada tulisan. Dan Tulisan adalah salah satu sarana utama agar ibadah berupa membaca bisa dilakukan. Maka, tulisan adalah bahan yang sangat penting bagi orang yang beribadah membaca.
saking penting dan besarnya peran pena dan apa yang ditulis oleh pena manusia, Allah sampai bersumpah menggunakan nama pena dalam Al-Quran yaitu: Surat Al-Qalam aya: 1.
ن. وَٱلقَلَمِ وَمَا يَسطُرُونَ
“Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis.”
- Kissah Penulisan Hadits-hdits Nabi Muhammad SAW:
Di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ini para sahabat tidak ada menulis sabda-sabda Rosulillah SAW, karena dikhawatirkan terjadi tumpang tindih antara ayat Al-Quran dan sabda Nabi, sehingga para sahabat hanya menulis ayat-ayat Al-Quran di berbagai benda. Namun, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam justru berlaku khusus kepada sahabat muda yang ahli ibadah yaitu: Abdullah bin Amr, putra seorang sahabat ahli strategi perang: Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu. Kebanyakan orang Pada masa permulaan Islam masih banyak yang buta huruf, sahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu lah yang sudah mahir baca dan tulis. Ia memiliki kebiasaan yang tidak umum dilakukan oleh para sahabat lainnya, ia gemar sekali mencatat sabda-sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Suatu hari Abdullah bin Amr dikeluhkan oleh para sahabat lain karena gemar menulis sabda-sabda Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, lalu ia menghadap Nabi untuk berkonsultasi. Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu kemudian diperintah oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dengan bersabda “Tulislah! Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak keluar dari mulutnya kecuali kebenaran”. Berikut ini Haditsnya:
عن عبدِ اللهِ بنِ عَمرٍو، قال: كنتُ أَكتُبُ كلَّ شيءٍ أَسمَعُهُ مِن رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، أُرِيدُ حِفْظَهُ، فنَهَتْنِي قُرَيشٌ، وقالوا: أَتكتُبُ كلَّ شيءٍ تَسمَعُهُ ورسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بَشَرٌ يَتكلَّمُ في الغضبِ والرِّضا؟ فأَمسَكْتُ عن الكِتابِ، فذَكَرْتُ ذلكَ لرسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فأَوْمأَ بأُصبُعِهِ إلى فيه، فقال: اكتُبْ؛ فوالَّذي نفْسي بيدِهِ، ما يَخْرُجُ منه إلَّا حقٌّ
Dari Abdullah bin Amr beliau berkata dulu saya gemar sekali menulis sabda-sabda Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang saya dengar dari beliau SAW, saya ingin menghafalnya, lalu para sahabat dari orang-orang Quraisy melarang saya, mereka berkata: Apakah kamu menulis semua yang kamu dengar dari Rosulillah SAW,? sedangkan Rosulullah SAW adalah manusia yang bisa saja berbicara dengan marah dan bisa dengan Ridlo. lalu ia menghentikan menulisnya dan segera menghadap Rosulallah SAW untuk berkonsultasi. Dan Rosul SAW memberikan Isyaroh pada mulutnya dengan Jarinya dan menyuruh Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu agar melanjutkan menulisnya dengan bersabda “Tulislah! Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak keluar dari mulutnya (Mulut Nabi SAW) kecuali kebenaran”. HR: Abu Dawud.
Di riwayatkan bahwa Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat, Abdullah bin Amr usianya baru 17 tahun.
- Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,
مَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدٌ أَكْثَرَ حَدِيثًا عَنْهُ مِنِّي، إِلَّا مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ وَلاَ أَكْتُبُ
Tidak ada seorang pun dari shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang paling banyak (meriwayatkan) hadits dari Beliau (Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) selain aku, kecuali dari Abdullah bin Amr, karena ia dahulu menulis, sedangkan aku tidak menulis.” (HR. Bukhari no.113)
- Qissah Penulisan Alqur`an di masa Sahabat dan Tabi`in
Pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, penyandaran pada hafalan lebih banyak daripada penyandaran pada tulisan, karena hafalan para sahabat radhiyallahu ‘anhum sangat kuat dan cepat, di samping sedikitnya orang yang bisa baca tulis dan sarananya. Oleh karena itu, siapa saja dari kalangan mereka yang mendengar satu ayat, dia akan langsung menghafalnya atau menuliskannya dengan sarana seadanya di pelepah kurma, potongan kulit, permukaan batu cadas atau tulang belikat unta. Jumlah para penghapal Al-Quran sangat banyak. Namun, demi menjaga keberadaan Al-Quran setelah perang Yamamah banyak membunuh para sahabat penghafal Al-Quran, maka sahabat Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu mendesak Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu untuk mengumpulkan catatan-catatan Al-Quran. Dalam Shahih Bukhari disebutkan, mulanya Abu Bakar tidak mau melakukannya karena takut dosa, sehingga Umar terus-menerus mengemukakan pandangannya karena melihat mslahah dan madlorrotnya, sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan pintu hati Abu Bakar untuk hal itu. Abu Bakar lalu memanggil Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu. Dengan didampingi Umar, Abu Bakar mengatakan kepada Zaid, “Sesunguhnya engkau adalah seorang yang masih muda dan berakal cemerlang, kami tidak meragukannmu, engkau dulu pernah menulis wahyu untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka sekarang carilah Al-Quran dan kumpulkanlah!”. Zaid berkata: “Maka aku pun mencari dan mengumpulkan Al-Quran dari pelepah kurma, permukaan batu cadas dan dari hafalan orang-orang. Mushaf tersebut berada di tangan Abu Bakar hingga dia wafat, kemudian dipegang oleh Umar hingga wafatnya, dan kemudian di pegang oleh Hafsah Binti Umar radhiyallahu ‘anhuma.” Sampai Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Orang yang paling besar pahalanya pada mushaf Al-Quran adalah Abu Bakar, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi rahmat kepada Abu Bakar, karena dialah orang yang pertama kali mengumpulkan Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
- Di masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, demi menyelamatkan umat dari fitnah berselisih dalam dialek membaca Al-Quran, Khalifah Utsman menyetujui masukan dan pendapat sahabat Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu. Lalu Khalifah Utsman memerintahkan untuk mengumpulkan mushaf-mushaf yang ada menjadi satu versi mushaf, sehingga kaum muslimin tidak berbeda bacaannya dan tidak mempertengkarkan kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang akhirnya berpecah belah.
Demikianlah, begitu pentingnya peran menulis di dalam Islam sehingga menjadi cara untuk menjaga kelestarian Al-Quran dalam bentuk fisiknya hingga kini. Demikian pula dengan sabda-sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan karya-karya Ulama` Ahlis-sunnah wal jamaah yang bisa kita baca dan dan kita hafal saat ini. Semua itu karena adanya penulisan secara teratur dan terorganisasi. Dari dasar-dasar inilah SYIMJA melangkah untuk berupaya dan ikut serta dalam menjaga dan melestarikan apa yang menjadi SYIARUL-ISLAM WAL MUSLIMIN. Semoga tetap bermanfaat. Amiin.
Program kerja BPP SYIMJA
Program Jangka Pendek:
- Mendorong Jamaah agar mampu berkarya secara ilmiyyah,
- Menyusun, dan menemukan solusi keummatan serta membukukan nya dalam bentuk kitab, buku, dan Bulletin atau Majallah.
Program Jangka Menengah:
- Bekerjasama dengan penyusun atau penerbit
- Atau menyusun dan menerbitkan sendiri karya-karya Ilmiyyah dari Jamaah Al-wasilah atau Ulama`-ulama` Ahlissunnah wal-jamaah
- Menggalang dana untuk membiayai penerbitan dan penyebarannya.
Program Jangka Panjang:
- Menerbitkan Panduan Amaliyyah Jamaah Al-wasilah, berupa Kitab, buku, Karya Ilmiyyah, Bulletin atau Majallah yang di susun oleh Ulama`-ulama` Ahlissunnah wal-jamaah hususnya dari kalangan Jamaah Al-wasilah yang di pandang manfaat dan maslahah.
- Memasarkan atau menyebarkan hasil karya / susunan dari Jamaah Al-wasilah yang sudah di terbitkan kepada anggota Jamaah Alwasilah hususnya dan kepada Masyarakat Muslimin wal muslimat umumnya.
SUSUNAN PENGURUS
BADAN PENYUSUNAN DAN PENERBITAN SYIARUL ISLAM WAL MUSLIMIN JAMAAH AL-WASILAH (BPP SYIMJA)
Ketua : Ky Ahmad Fuad Fahmi
Sekretaris : Ust. M. Fikri Haikal
Bendahara : Ilayya Zidta Riyya