Ketika Ilmu Nahwu Bertemu dengan Tasawwuf, Siapa yang Lebih Dekat dengan Kebenaran?

Oleh Muhammad Asqi Irfan Lii

Dalam kajian Islam, kalam memiliki kedalaman makna yang menarik, terutama jika dilihat dari sudut pandang ilmu nahwu (gramatika Arab) dan sufistik (spiritual). Menurut Ilmu nahwu, kalam merujuk pada ucapan yang terdiri atas kata-kata bermakna yang tersusun secara teratur. Namun, dalam pendekatan sufistik, kalam melampaui sekadar ucapan verbal, menjadi sesuatu yang memiliki dimensi spiritual dan refleksi hubungan manusia dengan Allah. Berikut penjelasannya.

  1. Kalam dalam Perspektif Nahwu

Menurut ilmu nahwu, kalam adalah:

الكلام هو اللفظ المركب المفيد بالوضع

Kalam adalah Lafadh yang tersusun, dapat di fahami, dan di sengaja

Maksud ungkapan tersebut adalah, sebuah ucapan yang terdiri dari susunan kata yang memiliki makna sempurna, dapat dipahami oleh pendengar, dan memenuhi kaidah gramatika. Ucapan ini berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan pesan atau informasi secara eksplisit. Dalam konteks ini, kalam melibatkan huruf-huruf dan suara yang diciptakan Allah sebagai sarana komunikasi manusia.

  1. Kalam dalam Perspektif Sufistik

Dalam sufisme, kalam tidak hanya dipahami sebagai ucapan verbal, Para Cendikiawan memberikan definisi sebagai:

الكلام عند الأكياس هو اللفظ المركب من المقال والحال بأن يكون المتكلم ممن ينهض حاله ويدل على الله مقاله، المفيد في قلوب المستمعين إما علوما أو أنوارًا أو أسرارًا

Menurut para cendekiawan, Kalam adalah gabungan antara perkataan dan keadaan (sikap), di mana orang yang berbicara seharusnya memiliki kondisi yang menunjukkan kebesaran Allah dan perkataannya memperkuatnya. Ucapan tersebut memberikan manfaat di hati para pendengar, baik berupa ilmu, cahaya (petunjuk), atau rahasia (hikmah).

Para sufi berpendapat bahwa ucapan yang benar-benar bermanfaat adalah yang berasal dari hati yang tulus dan disertai oleh tindakan nyata. Atau juga bisa di pahami, gabungan antara perkataan dan perbuatan. Jika ucapan tidak didukung oleh perbuatan, maka ia tidak akan berpengaruh apa pun di hati, karena kondisi seseorang akan bertentangan dengan perkataannya. sebagaimana Seorang penceramah yang kondisi spiritualnya mencerminkan kebesaran Allah akan memiliki ucapan yang mampu menggugah hati pendengarnya.

Hal ini ditegaskan dalam Kitab al-Hikam:

تسبق انوار الحكماء اقوالهم, فحيث ما صار التنوير وصل التعبير

“Cahaya para ahli Hikmah itu mendahului ucapan mereka. Di mana ada pencerahan, di situ pula muncul sebuah ungkapan.”

Ucapan yang berasal dari hati akan langsung menyentuh hati pendengar, memberikan rasa takut yang mencegah kemaksiatan atau kerinduan yang mengarah kepada Allah. Sebaliknya, jika ucapan hanya berasal dari lisan tanpa dukungan amal, ia tidak akan memberikan pengaruh apa pun, sebagaimana peribahasa “ibarat memukul besi dingin.”

  1. Dimensi Spiritual dalam Kalam

Para sufi juga menjelaskan bahwa kalam yang sejati adalah ucapan yang membawa cahaya, meningkatkan kesadaran spiritual, dan membuka penyaksian terhadap kebesaran Allah. Ucapan ini bisa berupa zikir, doa, atau penyampaian kebenaran yang mendekatkan manusia kepada Allah. Dalam konteks ini, ucapan yang bermanfaat adalah ucapan yang mencerminkan hati yang tulus, pikiran yang bersih, dan niat yang ikhlas. Sebagaiamana di jelaskan dalam hadis yang termaktub dalam Kitab Sunan al-Tirmidzi No 2318:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكَهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

termasuk tanda baiknya keislaman seseorang adalah, meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.

Oleh karena itu, seluruh ucapan akan menjadi beban bagi seseorang, kecuali dzikir kepada Allah dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Dalam hadis

Syaikh al-Buzidi, seorang tokoh sufi, berkata: “Seorang fakir yang jujur dapat berbicara satu kata yang memenuhi seribu kebutuhan, sedangkan seorang fakir yang dusta berbicara seribu kata hanya untuk memenuhi satu kebutuhan.” Hal ini menunjukkan pentingnya kualitas ucapan daripada kuantitasnya. Ucapan yang berkualitas adalah yang dilandasi oleh zikir kepada Allah, atau niat untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Bisa di tarik benang merah bawasanya Kalam, baik dalam perspektif nahwu maupun sufistik, memiliki peran yang penting dalam memahami hubungan antara manusia dan Allah. Dalam ilmu nahwu, kalam adalah alat komunikasi yang melibatkan huruf dan suara untuk menyampaikan pesan. Sementara dalam sufisme, kalam adalah gabungan antara ucapan dan keadaan yang mencerminkan kejujuran hati dan kedalaman spiritual seseorang.

Ucapan yang berasal dari hati dan didukung oleh amal akan memberikan dampak mendalam di hati pendengar, membangkitkan semangat untuk mendekat kepada Allah. Sebaliknya, ucapan yang hanya berasal dari lisan tanpa dukungan amal adalah sia-sia.

Refrensi:

Sayyid Abi al-Abbas Ibn Ajībah, Al-Futūḥatu al-Qudsiyyah fi Syarḥi al-Muqaddimah al-Juurumiyyah

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.